MENU

Prabowo Dorong BRICS Tak Berhenti di Atas Kertas, Global South Harus Dapat Manfaat Nyata

3 minutes reading View : 25
Red
Bisnis, Umum - 14 Sep 2026

NEW DELHI, INFOVIRAL.ID – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong negara-negara anggota BRICS memperkuat aksi kolektif untuk menghadapi perubahan geopolitik dan tantangan global yang semakin kompleks.

Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, yang resmi ditutup pada 12 September 2026.

Dalam sesi bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism, Prabowo menekankan pentingnya persatuan negara-negara Global South agar memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan arah masa depan dunia.

Menurutnya, BRICS memiliki kekuatan kolektif yang besar. Namun, kekuatan tersebut tidak cukup jika hanya diwujudkan dalam bentuk komitmen dan dokumen kesepakatan.

Prabowo menegaskan, seluruh komitmen yang disepakati harus diterjemahkan menjadi langkah konkret yang mampu menghadirkan peluang dan manfaat bagi masyarakat.

“Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh,” kata Prabowo dalam pidatonya.

Pepatah tersebut digunakan Prabowo untuk menggambarkan pentingnya solidaritas di antara negara-negara Global South. Ia mengaitkannya dengan semangat kebersamaan negara-negara Asia dan Afrika yang telah terbangun sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

“Inilah jenis kekuatan kolektif yang kita butuhkan,” imbuhnya.

BRICS Didorong Jadi Kekuatan Nyata

KTT BRICS ke-18 menghasilkan Deklarasi New Delhi yang menjadi kesepakatan bersama negara-negara anggota.

Deklarasi tersebut memuat berbagai komitmen kerja sama yang diharapkan menjadi pedoman untuk memperkuat peran BRICS dalam menghadapi persoalan global.

Tema KTT tahun ini, Building for Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability, mencerminkan agenda yang semakin luas. Pembahasan tidak hanya berkutat pada kerja sama ekonomi, tetapi juga mencakup tata kelola global, kecerdasan buatan, perubahan iklim, kesehatan hingga persoalan keamanan internasional.

Prabowo menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara berkembang membutuhkan wadah kerja sama yang mampu memperjuangkan kepentingan bersama di tengah perubahan tatanan dunia.

Karena itu, implementasi hasil KTT menjadi bagian penting setelah Deklarasi New Delhi disepakati.

Perdana Menteri India Narendra Modi sebagai tuan rumah KTT BRICS ke-18 juga menekankan pentingnya tindak lanjut atas berbagai kesepakatan tersebut.

“Kini menjadi tanggung jawab kita untuk menerjemahkan komitmen-komitmen ini menjadi hasil yang nyata,” ujar Modi.

Modi menyebut pertemuan terbatas dalam KTT berlangsung secara bermakna dan konstruktif. Ia juga menyoroti perlunya pembaruan terhadap institusi-institusi global seiring perubahan lanskap dunia.

Menurutnya, pembaruan tersebut diperlukan terutama untuk meningkatkan representasi, daya tanggap, serta aturan keterlibatan antarnegara.

Soroti Konflik Global

Selain isu tata kelola global dan kerja sama ekonomi, Deklarasi New Delhi turut menyoroti sejumlah konflik yang masih berlangsung.

Situasi di kawasan Timur Tengah dan Sudan menjadi bagian dari perhatian negara-negara anggota BRICS. Dalam deklarasi tersebut, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik didorong untuk mengedepankan penahanan diri secara maksimal.

Pembahasan tersebut memperlihatkan semakin luasnya perhatian BRICS terhadap persoalan geopolitik dan keamanan internasional.

Di sisi lain, isu kecerdasan buatan, perubahan iklim dan kesehatan juga menjadi bagian dari agenda kerja sama. Ketiga isu tersebut dinilai memiliki dampak lintas negara sehingga membutuhkan pendekatan bersama.

Indonesia Perkuat Posisi di BRICS

Kehadiran Prabowo dalam KTT BRICS ke-18 sekaligus menegaskan partisipasi penuh Indonesia sebagai anggota resmi BRICS.

Indonesia membawa kepentingan untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara berkembang sekaligus memperluas ruang bagi Global South dalam percaturan internasional.

Bagi Indonesia, BRICS menjadi salah satu forum strategis untuk mendorong kerja sama ekonomi dan memperkuat suara negara berkembang dalam berbagai isu global.

Penutupan KTT juga ditandai dengan serah terima keketuaan BRICS dari India kepada China untuk periode berikutnya.

Pergantian kepemimpinan tersebut membuka babak baru bagi BRICS dalam meneruskan agenda yang telah dirumuskan di New Delhi.

Dengan Deklarasi New Delhi sebagai pijakan bersama, tantangan berikutnya bagi negara-negara anggota adalah memastikan setiap komitmen dapat diwujudkan dalam program dan kerja sama yang memberikan dampak nyata.

Hal itu sekaligus menjadi ujian bagi BRICS untuk membuktikan bahwa kekuatan kolektif negara-negara berkembang bukan sekadar wacana, melainkan dapat menghasilkan perubahan konkret bagi masyarakat dan memperkuat posisi Global South dalam tata kelola dunia. (*)

Share Copied

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x