MENU

80 Peserta Ikuti Pelatihan Pupuk Kaltim, Limbah Organik Disulap Jadi Kompos

4 minutes reading View : 21
Agus
Advertorial, Bontang - 06 Aug 2026

infoviral.id/, Bontang – PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) terus mendorong penerapan pertanian produktif dan berkelanjutan di Kota Bontang. Salah satunya melalui Program Peningkatan Kapasitas Petani (PAK TANI) yang mengajak masyarakat mengoptimalkan limbah organik menjadi kompos berkualitas.

Kegiatan bertajuk “Olah Limbah, Jadi Kompos Lebih Mudah, Panen Berlimpah” tersebut digelar di Gedung Koperasi Karyawan Pupuk Kaltim, Kamis (6/8/2026). Sekitar 80 peserta mengikuti kegiatan ini, yang terdiri dari kelompok petani, petani milenial, Kelompok Wanita Tani (KWT), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga Karang Taruna se-Kota Bontang.

Kepala Satuan Pengawasan Intern (SPI) Pupuk Kaltim, Sutrisna, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri.

“Pengetahuan inilah yang ingin kita dorong, agar masyarakat melihat limbah sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan bermanfaat bagi kesuburan tanah maupun tanaman,” ujar Sutrisna.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai pemupukan berimbang, tetapi juga mengikuti praktik pengolahan limbah organik menjadi kompos dengan memanfaatkan Biodex, produk biodekomposer produksi Pupuk Kaltim yang berfungsi mempercepat proses penguraian bahan organik.

Sutrisna menjelaskan, potensi limbah organik di lingkungan masyarakat cukup besar, baik yang berasal dari aktivitas pertanian, peternakan maupun limbah dapur SPPG. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menjadi residu yang berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.

Namun, dengan pengelolaan yang tepat, limbah organik dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman.

Ia menegaskan, penerapan pertanian berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga harus memperhatikan efisiensi pemanfaatan sumber daya dan kelestarian lingkungan.

Pemanfaatan kompos menjadi salah satu langkah untuk menciptakan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Upaya tersebut sekaligus sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni mengembalikan material yang sudah tidak digunakan ke dalam siklus produksi.

“Seiring perubahan cara pandang terhadap limbah organik, maka pemanfaatannya akan memperkuat pemberdayaan masyarakat serta menciptakan manfaat ekonomi maupun lingkungan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

Pupuk Kaltim, lanjut Sutrisna, akan terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. Pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat diterapkan dan dibagikan kepada anggota kelompok tani maupun masyarakat di lingkungan sekitar.

“Yang ingin kita bangun adalah kemandirian. Saat masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, maka mereka mampu mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri. Ini yang akan membuat sebuah program menjadi berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Pj Sekretaris Daerah Kota Bontang, Akhmad Suharto, mengapresiasi langkah Pupuk Kaltim dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, khususnya peningkatan kapasitas di bidang pertanian dan lingkungan.

Menurutnya, pelatihan pengolahan limbah organik menjadi kompos memiliki manfaat strategis karena dapat membantu masyarakat mengurangi limbah yang berpotensi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Ia berharap peserta tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga mampu menyebarluaskannya di lingkungan masing-masing.

“Saudara-saudara sekalian tidak hanya bisa menerapkan ilmu untuk diri sendiri, tapi juga mampu menjadi agen perubahan (agent of change) di kelompok tani serta wilayahnya masing-masing. Sasaran ini kami harap dapat tercapai dengan baik,” kata Akhmad.

Ia juga mendorong agar praktik pembuatan kompos dapat direplikasi secara mandiri oleh kelompok masyarakat dan menjadi bagian dari kebiasaan dalam mengelola limbah sehari-hari.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang mampu mengolah limbah organik, semakin besar pula potensi pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA. Di sisi lain, hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian dan ketahanan pangan.

“Upaya ini juga memberi nilai tambah bagi masyarakat, karena bahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat kembali ke lahan dalam bentuk kompos, sehingga membantu menjaga kualitas tanah dalam budidaya pertanian,” tuturnya.

Salah satu peserta, Anas Taneng, perwakilan Kelompok Tani Sabar Menanti, Kelurahan Bontang Lestari, menilai materi yang diberikan dalam pelatihan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan.

Menurutnya, pengolahan limbah organik menjadi kompos dapat menjadi alternatif untuk memanfaatkan berbagai bahan yang tersedia di sekitar lahan pertanian.

“Pelatihan ini memberi tambahan ilmu bagi kami tentang bagaimana limbah organik diolah menjadi kompos menggunakan Biodex. Pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat untuk kami terapkan ke depannya,” ujar Anas.

Ia mengatakan, pelatihan tersebut memberikan gambaran lebih jelas mengenai tahapan pengolahan bahan organik hingga menjadi kompos yang siap digunakan. Pasalnya, masih terdapat sejumlah bahan organik di sekitar lingkungan pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Anas berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan agar semakin banyak petani memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola limbah organik.

“Kami memastikan ilmu yang diperoleh tidak hanya berhenti di pelatihan, tapi untuk kami praktikkan di kelompok. Kalau berhasil, tentu bisa dikembangkan serta dibagikan ke petani lainnya,” pungkasnya. (Adv).

Share Copied

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x