MENU

MUI Soroti Simbang Kulon Night Carnival, Dinilai Tak Sejalan dengan Semangat Maulid Nabi

4 minutes reading View : 43
Red
Lifestyle, Viral - 15 Sep 2026

PEKALONGAN, INFOVIRAL.ID – Gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menuai perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karnaval yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi perbincangan setelah sejumlah potongan video pertunjukan beredar luas di media sosial.

Perhatian publik tertuju pada konsep pertunjukan yang menampilkan visual bernuansa horor. Sejumlah peserta terlihat mengenakan kostum menyerupai monster atau makhluk menyeramkan, disertai berbagai properti yang oleh sebagian masyarakat dinilai menyerupai simbol satanic maupun ritual pemujaan setan.

Dalam salah satu video berdurasi sekitar 1,5 menit yang beredar, tampak peserta membawa properti berupa peti mati dengan simbol berbentuk bintang berwarna gelap serta ornamen menyerupai bercak darah. Pertunjukan juga memperlihatkan seekor kambing berada di dalam peti sebelum kemudian menjadi bagian dari adegan penyembelihan di tengah pertunjukan.

Visual dan adegan tersebut memicu reaksi publik. Sebagian masyarakat menilai konsep yang ditampilkan terlalu ekstrem dan tidak sesuai dengan suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun, penyebutan pertunjukan tersebut sebagai ritual satanic merupakan penilaian yang muncul di tengah masyarakat berdasarkan visual dan adegan yang beredar di media sosial.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, turut memberikan tanggapan atas kontroversi tersebut. Ia menilai konsep pertunjukan SKNC 2026 tidak sejalan dengan esensi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, peringatan kelahiran Rasulullah seharusnya menjadi momentum untuk menghadirkan kegiatan yang mendidik, menyejukkan, serta mencerminkan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW.

“Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Kiai Cholil, mengutip MUI Digital di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Ia menjelaskan, kegembiraan dalam memperingati Maulid Nabi dapat diekspresikan melalui berbagai bentuk kegiatan yang memiliki nilai syiar dan memperkuat keimanan umat.

Di antaranya dengan membaca Alquran, memperbanyak shalawat, menyampaikan nasihat keagamaan, serta menceritakan dan meneladani kehidupan Rasulullah SAW.

Menurut Kiai Cholil, keberadaan karnaval dalam sebuah perayaan keagamaan pada dasarnya tidak menjadi persoalan selama konsep yang digunakan memiliki nilai edukatif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,” tegasnya.

Soroti Adegan Penyembelihan Kambing

Kiai Cholil secara khusus menyoroti adegan penyembelihan kambing yang ditampilkan dalam pertunjukan tersebut. Ia menilai penyembelihan hewan tidak semestinya dikemas menjadi tontonan dengan kesan mengerikan atau dilakukan secara tidak baik.

Ia mengingatkan bahwa praktik penyembelihan hewan dalam Islam memiliki ketentuan dan adab yang harus diperhatikan. Karena itu, penyembelihan tidak seharusnya dijadikan bagian dari pertunjukan yang mengedepankan unsur horor.

“Jangan menyimpang menjadi tampilan setan-setan, atau menyembelih hewan dengan cara yang tidak baik, lehernya dipotong hingga terlepas dan seterusnya. Itu bukan ajaran Rasulullah,” ujarnya.

Kritik tersebut tidak ditujukan untuk meniadakan unsur seni dan budaya dalam kegiatan masyarakat. Sebaliknya, MUI menilai seni dan budaya tetap dapat menjadi bagian dari perayaan keagamaan selama pesan dan bentuk penyajiannya tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.

MUI Dorong Maulid Diisi Kegiatan Keislaman

Lebih lanjut, Kiai Cholil mengimbau panitia penyelenggara kegiatan Maulid Nabi di berbagai daerah agar lebih selektif dalam memadukan unsur seni, budaya, dan kegiatan keagamaan.

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi memiliki banyak pilihan kegiatan yang dapat menghadirkan suasana kegembiraan sekaligus memperkuat kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.

Ia merujuk pada penjelasan para ulama, termasuk Imam As-Suyuthi, bahwa peringatan Maulid dapat diisi dengan berbagai kegiatan bernilai ibadah dan sosial.

Kegiatan tersebut antara lain pembacaan Alquran, lantunan shalawat, mauidhoh hasanah, penyampaian kisah keteladanan Rasulullah SAW, hingga penyediaan makanan sebagai bentuk rasa syukur dan sedekah.

Menurut Kiai Cholil, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mengungkapkan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga dapat mempererat silaturahmi dan meningkatkan kecintaan umat terhadap Rasulullah.

Kontroversi yang muncul dari pelaksanaan SKNC 2026 diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kegiatan keagamaan maupun kebudayaan di masa mendatang.

MUI meminta ekspresi seni dalam kegiatan yang membawa identitas keislaman tetap memperhatikan nilai, norma, serta tujuan utama dari kegiatan tersebut.

“Jangan menyimpang,” kata Kiai Cholil.

Bagi MUI, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta membangun persaudaraan di tengah masyarakat.

Karena itu, kreativitas dalam perayaan Maulid dinilai perlu tetap diarahkan agar tidak menimbulkan keresahan, mengaburkan pesan keagamaan, maupun menggeser substansi peringatan dari keteladanan Nabi Muhammad SAW. (*)

Share Copied

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x