MENU

HELO EAST FESTIVAL 2026, Ruang Generasi Muda Mengenal dan Mengekspresikan Budaya Kaltim

4 minutes reading View : 27
Agus
Samarinda, Umum, Viral - 26 Aug 2026

infoviral.id/, Samarinda – Semangat generasi muda untuk mengenal, mengembangkan, dan mengekspresikan kebudayaan Kalimantan Timur hadir dalam HELO EAST FESTIVAL 2026 yang digelar di Temindung Creative Hub, Samarinda.

Mengusung tema “Jejak Budaya, Ruang Berkarya”, festival ini menghadirkan beragam rangkaian kegiatan, mulai dari pertunjukan seni, musik tradisional, talkshow budaya, tenant budaya, hingga workshop kreatif.

HELO EAST FESTIVAL 2026 menjadi ruang pertemuan bagi mahasiswa, generasi muda, komunitas, pegiat seni dan budaya, serta masyarakat untuk melihat kebudayaan Kalimantan Timur dari perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan dan kreativitas generasi masa kini.

Pelaksanaan kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Hetifah Sjaifudian selaku Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, serta Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur melalui pemanfaatan Temindung Creative Hub sebagai ruang kreatif publik di Samarinda.

Festival ini digagas oleh Olli Chandra selaku Dewan Pembina HSA sekaligus pengusul program dan Tiara Oktaviani Aras selaku Ketua Panitia sekaligus Ketua HSA. Pelaksanaannya melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, serta komunitas dan pegiat seni budaya lokal.

Tiara mengatakan HELO EAST FESTIVAL lahir dari kegelisahan sekaligus semangat untuk menghadirkan ruang bagi generasi muda agar lebih dekat dengan kebudayaan Kalimantan Timur.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi yang telah ada. Generasi muda juga perlu diberikan ruang untuk mengenal, memahami, menginterpretasikan, hingga mengembangkan budaya melalui pendekatan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Bagi kami, mengenal budaya bukan berarti harus selalu melihat ke belakang. Justru dari jejak yang sudah ada, kita bisa menemukan cara baru untuk bercerita, berekspresi, dan berkarya. Kami ingin EAST FESTIVAL menjadi ruang bagi generasi muda untuk menemukan bahwa budaya juga bisa menjadi bagian dari kehidupan dan kreativitas mereka hari ini,” ujar Tiara.

Sementara itu, Olli Chandra mengapresiasi antusiasme peserta, pengisi acara, komunitas, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan HELO EAST FESTIVAL 2026.

Menurut Olli, festival tersebut tidak sekadar dirancang sebagai pertunjukan budaya, melainkan sebuah pengalaman yang memungkinkan peserta untuk melihat, mendengar, berdiskusi, berinteraksi, hingga menghasilkan karya.

“Seluruh rangkaian kegiatan kami rancang saling berkaitan. Peserta tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diajak memahami budaya melalui cerita, melihat bagaimana budaya diekspresikan melalui seni, kemudian menuangkannya kembali dalam bentuk karya,” kata Olli.

Ia menambahkan, pelestarian kebudayaan merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, diperlukan semakin banyak ruang yang memungkinkan generasi muda terlibat aktif dalam kebudayaan sekaligus mengembangkan kreativitas mereka.

Dukungan terhadap keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya juga disampaikan Hetifah Sjaifudian. Ia mengajak generasi muda Kalimantan Timur untuk tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga mengambil peran dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya daerah.

Menurutnya, budaya merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya dengan pendekatan yang kreatif dan relevan.

Generasi muda, kata dia, memiliki posisi strategis karena tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan media digital. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan kebudayaan Kalimantan Timur kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus menciptakan bentuk-bentuk ekspresi budaya yang baru.

Pertunjukan Seni hingga Workshop Kreatif

Rangkaian HELO EAST FESTIVAL 2026 turut dimeriahkan dengan sejumlah penampilan seni, di antaranya Tari Tega’ Siput Kena Tungu, penampilan Group Musik Tradisional HIMA Etnomusikologi Universitas Mulawarman, serta Tari WAWEQ RAJIT dari Trisakerta Program Studi Tari, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.

Berbagai pertunjukan tersebut menjadi ruang apresiasi sekaligus memperkenalkan beragam bentuk ekspresi seni budaya kepada generasi muda.

Selain pertunjukan seni, Tenant Budaya juga menjadi ruang interaksi antara peserta dengan penggiat budaya dan pelaku kreatif. Peserta dapat melihat lebih dekat berbagai karya, produk, serta aktivitas kreatif yang berkaitan dengan kebudayaan Kalimantan Timur.

Pada sesi talkshow bertajuk “Budaya sebagai Ruang Ekspresi Generasi Muda”, Rohman Hidayat selaku Putra Budaya Indonesia membawakan materi “Mengenal Kaltim Lewat Cerita Budaya”. Sementara M. Ikhsanu Yaqin dari Mural Art Kaltim menyampaikan materi “Mengekspresikan Budaya Lewat Karya”.

Keduanya mengajak peserta melihat kebudayaan Kalimantan Timur melalui cerita sekaligus perspektif seni sebagai ruang ekspresi bagi generasi muda.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Workshop Zine Kaltim bersama Hadi Wardoyo. Dalam workshop tersebut, peserta diajak menuangkan pemahaman dan gagasan mereka mengenai kebudayaan Kalimantan Timur melalui tulisan, gambar, dan berbagai bentuk visual.

Antusiasme peserta terlihat selama proses pembuatan hingga presentasi karya zine di akhir sesi. Workshop ini menjadi tahapan ketika peserta tidak hanya mengenal budaya, tetapi mulai mengolah pemahaman tersebut menjadi sebuah karya.

Melalui HELO EAST FESTIVAL 2026, kebudayaan ditempatkan bukan hanya sebagai warisan masa lalu yang perlu dijaga, melainkan sebagai ruang hidup yang terus berkembang, beradaptasi, dan menjadi sumber kreativitas bagi generasi muda.

Festival ini juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari seni pertunjukan, cerita, musik, seni visual, ruang komunitas, hingga media kreatif dan digital.

Ke depan, semangat yang dibangun melalui HELO EAST FESTIVAL diharapkan dapat berkembang menjadi berbagai kegiatan kolaboratif yang mempertemukan generasi muda dengan pelaku budaya, komunitas, pemerintah, akademisi, dan industri kreatif.

Share Copied

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x